Jelita terbangun dengan jantung berdebar. Pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya, tetapi kegelisahan di hatinya jauh lebih menusuk. "Kepala suku!" serunya dengan suara cemas, suaranya memecah keheningan.

Dia menoleh ke sekeliling, tetapi Lynx tidak ada di sampingnya. "Bagaimana bisa aku ketiduran? Seharusnya aku menjaganya," gumamnya, tangannya gemetar dan segera mencari Lynx.

Panik mulai menyelimuti dirinya. Matanya memindai setiap sudut ruangan. "Kepala suku saat ini pasti sedang kebingungan...," pikirnya, rasa bersalah menusuk di dadanya.

Selama tiga tahun terakhir, Jelita selalu ada untuk Lynx. Dia tahu betul bahwa Lynx sering kali tidak mengingat siapa dirinya atau di mana dia berada. Kondisi itu membuatnya terus siaga, menjaga Lynx agar tidak tersesat atau terluka. Dia juga harus mengingatkan Lynx, siapa dirinya dan memberitahu hal-hal penting yang perlu diketahui setiap kali tersadar. Setiap hari, dia memastikan ramuan yang dibeli dari toko obat diminum Lynx untuk meredakan gejala aneh yang sering menyerang tubuhnya. Namun kali ini, dia lalai.

Akhirnya dia menemukan Lynx sedang duduk di sudut ruangan. "Syukurlah, Kepala Suku tidak ke mana-mana. Mungkin alam bawah sadarnya menyuruhnya untuk bermeditasi agar menenangkan pikirannya karena lupa siapa dirinya," batin Jelita, menatap Lynx yang duduk dalam posisi meditasi dengan wajah tenang.

Jelita berjalan mendekat dan duduk di sampingnya. Wajah Lynx tampak damai, membuat Jelita tersenyum kecil. Tak lama kemudian, mata Lynx perlahan terbuka.

"Pagi, Xiao Lin. Bagaimana kabarmu? Pasti kamu bingung, kan, siapa dirimu?" Jelita membuka percakapan, suaranya lembut, seperti sedang berbicara dengan anak kecil yang membutuhkan penjelasan.

Lynx tidak langsung menjawab. Ia hanya diam, tetapi senyuman kecil yang muncul di wajahnya seolah menjadi jawaban tak terucap.

"Kamu tidak perlu bingung," Jelita melanjutkan, suaranya kini lebih pelan namun hangat. "Aku Yun Qing, istri tercintamu. Kamu sedang sakit, jadi ingatanmu terganggu. Tapi tidak apa-apa, aku di sini untukmu." Dia mendekatkan wajahnya, berbisik di dekat telinga Lynx, "Aku mencintaimu, dan kamu juga mencintaiku."

Ada perasaan lega setiap kali Jelita mengucapkan kata-kata itu, meskipun dia tahu bahwa Lynx mungkin akan melupakan segalanya lagi dalam hitungan waktu. Biasanya, Lynx akan menanggapi ucapannya dengan mengulang kata-kata itu atau menuruti apa pun yang ia katakan. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Lynx hanya diam, tetap menatap Jelita dengan senyuman yang sulit diartikan.

"Xiao Lin? Kenapa kamu diam saja?" Jelita mengernyit, suaranya berubah cemas. "Apa kamu tidak mencintaiku lagi? Biasanya kamu selalu menjaga dan menemaniku," tanyanya dengan nada penuh harap.

Melihat Lynx tetap diam, Jelita mendekatkan tangannya ke kepala Lynx, memeriksa dengan lembut seperti seorang tabib yang memeriksa pasiennya. "Apakah kamu sakit?" bisiknya, khawatir. Jemarinya meraba-raba dahi Lynx, mencari tanda panas atau gejala yang tidak biasa.

Namun, Lynx tetap hanya diam dengan senyum lembutnya, membuat Jelita semakin bingung. "Kamu selalu membuatku sulit menebak apa yang ada di pikiranmu," gumamnya dengan nada kesal, tetapi jelas ada kehangatan dalam suara itu.

"Xiao Lin, jangan diam saja. Kamu membuatku sangat cemas," kata Jelita lagi dengan nada khawatir, merasakan kegelisahan yang mengaduk hatinya. Tak biasanya Lynx bersikap seperti ini, hanya diam dan tersenyum tanpa berkata sepatah kata pun.

"Xiao Lin, bicaralah. Jangan bikin aku takut," pintanya, air matanya mulai mengalir membasahi pipinya.

Lynx yang awalnya berniat mengerjainya merasa tidak tega melihatnya begitu. Dia ingin membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, tetapi saat itu juga, Jelita mendadak memeluknya erat sambil menangis.

"Maafkan aku, Xiao Lin. Apakah kamu marah karena aku ketiduran? Tidak seharusnya aku tidur saat kamu sedang mengalami rasa sakit. Maafkan aku," katanya, suaranya penuh kesedihan dan penyesalan.

Lynx merasa serba salah, bingung bagaimana cara menghadapinya.

"Xiao Lin, aku sangat mencintaimu. Aku istrimu. Kumohon, janganlah kamu bersikap begini. Kamu boleh menghukumku dengan apa saja, tapi jangan diam seperti ini," tangis Jelita semakin terdengar menyedihkan.

"Jelita..." Lynx mencoba menghentikan tangis Jelita, suaranya lembut namun jelas. Mendengar suara itu, Jelita mendongak dengan mata berkaca-kaca, merasa harapan muncul kembali di hatinya.

"Xiao Lin, akhirnya kamu mau bersuara. Kamu jahat, kamu sengaja menakutiku!" katanya dengan nada kesal bercampur lega, lalu tanpa ragu memeluk Lynx erat-erat.

Namun, beberapa saat kemudian, Jelita tersadar dengan ucapan Lynx sebelumnya. "Jelita?" ucapnya pelan, hampir seperti bisikan.

Jelita tiba-tiba membeku, darahnya terasa naik ke kepalanya. Dia melepaskan pelukannya dengan cepat, berdiri, dan menatap Lynx dengan tatapan yang sulit dijelaskan. "Xiao Lin... kamu menyebutku siapa tadi?" tanyanya dengan nada hampir berbisik, suaranya gemetar.

Lynx tersenyum, menatap Jelita dengan lembut. "Jelita, apa kabarmu selama ini?" katanya dengan nada akrab, seolah memanggil nama itu telah menjadi bagian dari dirinya.

Jelita merasa seluruh tubuhnya gemetar, seakan-akan waktu berhenti. "K...kepala suku... Kamu sudah bisa mengingat masa lalumu?" tanyanya ragu, hampir tidak percaya pada apa yang baru saja didengarnya.

Lynx mengangguk perlahan, senyumnya tidak pernah pudar. "Ya, aku sudah mengingat semuanya. Aku sudah kembali seperti diriku yang dulu," jawabnya dengan tenang, namun penuh kehangatan.

Wajah Jelita langsung memerah seketika. Pikirannya penuh dengan percakapan dan tindakan sebelumnya—semua rayuan, sikap manja, dan kebiasaan yang dia tunjukkan selama Lynx kehilangan ingatan. Dia menutupi wajahnya dengan kedua tangan. "A-aku... eh, syukurlah! Ah, anu...," katanya terbata-bata, tidak tahu harus berkata apa.

Jelita merasa begitu malu, seperti ada bara api yang membakar wajahnya. Dia tidak menyangka Lynx telah memulihkan ingatannya, "Apakah dia ingat semua momen selama tiga tahun terakhir?" Batinnya.

"Kenapa kamu tidak bilang sejak awal?" ucapnya akhirnya, suaranya pelan dan malu-malu.

"Jelita, aku ingin memberitahumu sejak tadi, tapi kamu berbicara tanpa henti, membuatku bingung harus menyelanya. Selain itu, aku merasa lega melihatmu baik-baik saja," kata Lynx sambil tersenyum, nada suaranya lembut dan menenangkan.

Jelita semakin salah tingkah. Wajahnya yang memerah semakin terlihat jelas. "Apa... apakah Kepala Suku mengingat saat... saat ingatan Kepala Suku terganggu?" tanyanya dengan gugup, suaranya terbata-bata.

Lynx tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak," jawabnya dengan tenang, meskipun dalam hati ia tahu dirinya masih mengingat banyak hal dengan sangat jelas. Ia ingat bagaimana Jelita merawatnya dengan penuh perhatian, termasuk momen-momen canggung—seperti ketika Jelita mengajaknya mandi bersama, atau ketika dia memandikannya setelah kehujanan saat kehilangan ingatan. Bahkan, baru kemarin ia tidak sengaja melihatnya ketika Jelita melepas handuknya di kamar.

Jelita menatap tajam ke wajah Lynx, berusaha membaca apakah dia berbohong. Tatapan itu berlangsung cukup lama, hingga akhirnya dia menghela napas lega. "Syukurlah, Kepala Suku tidak mengingatnya," gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.

"Kenapa, Jelita? Apakah ada sesuatu yang aku lewatkan? Kalau iya, kamu harus mengingatkanku," kata Lynx sambil tersenyum tipis, mencoba memancing.

"Tidak! Tidak ada apa-apa," sahut Jelita buru-buru, gelagapan. Dia berdeham kecil untuk menenangkan dirinya sendiri. "Nanti... nanti secara bertahap Kepala Suku akan aku kasih tahu apa saja hal-hal yang perlu diketahui," lanjutnya dengan nada datar, berusaha terdengar meyakinkan.

Lynx tersenyum, tidak mendesak lagi. Ia tahu Jelita sedang berusaha menutupi rasa malunya, dan itu cukup menghiburnya.

"Kalau begitu, aku akan bersiap ke hutan untuk mencari tanaman herbal. Kepala Suku bisa beristirahat terlebih dahulu," kata Jelita sambil berusaha bersikap biasa, meski di dalam hatinya campur aduk. Dia merasa sedih karena kebersamaannya sebagai,suami istri, bersama Lynx sudah selesai, tetapi juga merasa gembira karena ini artinya mereka bisa segera pergi mencari Ayahnya, Ayunga, dan yang lainnya.

Namun, langkah Jelita terhenti ketika menyadari sesuatu. Ia memandang sekeliling, raut wajahnya berubah menjadi bingung. "Eh, di mana kita?" tanyanya, lebih kepada dirinya sendiri. Jelita yakin tadi malam ia ada di kamar bersama Lynx, seperti biasa, menjaganya sampai ia ketiduran.

"Kepala Suku, kenapa kita bisa ada di sini?" tanyanya lagi, kali ini langsung menatap Lynx dengan sorot penuh rasa penasaran.

